DanauToba.org — Pada zaman dahulu, pelaksanaan pesta adat setiap suku di Nusantara kebanyakan panjang acaranya, sehingga memakan waktu yang sangat lama. Hal seperti ini juga terjadi pada suku Batak pada setiap puak yang ada. Pada masa itu kita dapat mengerti karena aktivitas masyarakat tempo dulu tidak sebanyak masyarakat modern sekarang. Selain banyak, masyarakat modern sekarang juga memiliki beragam aktivitas, sehingga banyak pilihan.

Mauliate
Salam sehat
Terima kasih ada ruang komentar ini.
Pandangan dan usulan juga utk para pendukung adat (parhata dll)
Pemangilan atau penyebutan tamu hula hula . Tulang. Bona niari dll itu sering di ulang ulang. Sedangkan nama nama marga itu sdh ada dan sdh dikenal dari proses 5 M (marhusip s/d marpesta)
Terus menerus di panggil dan di sebutkan.. ini perlu di buat simple saja… (tdk mungki tertukar)
Lalu. Para pelaku adat nya sering berbalas balas umpasa umpama dan hata hata….. ini pun terlalu kaku dan pakem…
Apakah mungkin ada pola atau training agar ini menjadi hiburan/entertaimen/ sesuatu yang menarik ( coba bandingkan dfn budaya lain)
Bagian ininbisa menjadi hiburan dan kenikmatan pesta…. jangan terlalu kaku dan pakem… (sering di hindari para tamu apalagi yang tdk mengerti bahasa … akan mengjindar keluar ruangan atau main game di HP.. hahaha)
Budaya dan pesta batak blm bisa menonjolkan sesuatu menjadi daya tarik ,seperti tarian jawa dan bali yang dulu sakral sekarang menjadi hiburan, klo di batak sesuatu yang beda atau di rubah langsung jadi pantangan atau problem… sebetul nya belum tentu juga kan?
Demikian sedikit gambaran dan pandangan pribadi saja
Mauliate
Format dan hasil kesepakatan, perlu di sosialisasikan.
Hasil SIMULASI ADATNYA DI SHARE secara luas. Agar dapat dilakukan di masing masing marga.