Merangkul Kaum Muda, Membangun Kawasan Danau Toba

Peserta Diskusi Kamisan asyik menyimak penjelasan narasumber.
Peserta Diskusi Kamisan asyik menyimak penjelasan narasumber.

JAKARTA, DanauToba.org — Pepatah kuno mengatakan: “Kaum muda adalah harapan bangsa.” Di pundak kaum mudalah masa depan bangsa ditentukan. Jika kaum muda hancur, maka masa depan bangsanya juga akan hancur. Sebaliknya, jika kaum mudanya maju , maka masa depan bangsanya juga maju.

Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) sangat peduli kepada generasi muda, khususnya generasi muda Batak. Untuk membangun Kawasan Danau Toba (KDT), kita perlu merangkul kaum muda terlibat lebih intens. Mengapa demikian? Karena orang-orang muda pada umumnya bersemangat tinggi, kreatif, inovatif, proaktif, dan idealis.

Terkait hal tersebut, pada kesempatan Diskusi Kamisan (21/7/2016) di Sekretariat YPDT, Jakarta Timur, YPDT mengusung topik: “Pembangunan Berkelanjutan Kawasan Danau Toba dalam Perspektif Generasi Muda.” Darman Siahaan (Ketua Umum Naposo Batak Jabodetabek – Nabaja) berbagi pandangannya tentang Naposo Batak yang berada di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Darman Siahaan mengatakan bahwa ada empat alasan yang melatarbelakangi berdirinya Nabaja, antara lain:

Pertama, keprihatinan atas merosotnya semangat Habatahon terhadap orang Batak, khususnya para naposo (generasi muda) di Jabodetabek.

Kedua, banyaknya komunitas Batak yang muncul dan hilang begitu saja.

Ketiga, minimnya kekerabatan antarnaposo batak terutama antarpuak Batak.

Keempat, menjadikan Nabaja sebagai wadah naposo Batak 5 puak di Jabodetabek.

Latar belakang pertama menjadi catatan penting untuk digarisbawahi karena kita akan lebih banyak mengeluarkan daya upaya untuk membangkitkan semangat Habatahon di kalangan generasi muda Batak.

Ketum Nabaja ini menjelaskan bahwa tidak mudah kita merangkul naposo Batak di Jabodetabek ikut terlibat dalam kegiatan Nabaja karena beberapa alasan tertentu, misalnya:

Pertama, banyaknya pilihan untuk bergabung dan memilih teman, dan komunitas termasuk memilih berkebaktian di Gereja.

Kedua, tuntutan orangtua agar anaknya fokus pada pendidikannya agar si anak melebihi orangtuanya, sehingga keterlibatan anak dalam sebuah organisasi atau komunitas tidak diperbolehkan atau dibatasi.

Inilah tantangan kita bagaimana merangkul kaum muda untuk membangun KDT. Namun, kita harus optimis bahwa kita mampu merangkul mereka sepanjang kita mampu menggerakkan generasi muda Batak membangkitkan semangat jiwa muda mereka, menyalurkan bakat dan ide kreatif dan inovatif mereka, dan mendorong mereka untuk proaktif.

Berdasarkan tuturan Darman Siahaan, Nabaja telah berusaha dan berupaya menggerakkan kaum muda Batak untuk hal-hal tersebut. Berikut ini beberapa kegiatan Nabaja yang memberi dampak positif bagi masyarakat luas:

Aksi sosial Nabaja dengan 2.500 korban banjir di GOR Rawamangun, Jakarta.
Aksi sosial Nabaja dengan 2.500 korban banjir di GOR Rawamangun, Jakarta.
Keterlibatan Nabaja dalam Pesta Bolon Tahun Remaja - Pemuda HKBP Wilayah 3 Tahun 2014.
Keterlibatan Nabaja dalam Pesta Bolon Tahun Remaja – Pemuda HKBP Wilayah 3 Tahun 2014.

 

Upacara HUT RI 17 Agustus dilakukan setiap tahun oleh Nabaja dengan ala Batak.
Upacara HUT RI 17 Agustus dilakukan setiap tahun oleh Nabaja dengan ala Batak.

 

Latihan Gondang Batak oleh Naposo Batak dalam Nabaja.
Latihan Gondang Batak oleh Naposo Batak dalam Nabaja.

Generasi muda Batak tidak berhenti dalam kegiatan Nabaja saja, tetapi bolehlah mereka juga membangun KDT dalam menghadirkan Kota Berkat di Atas Bukit. Mari kita dukung generasi muda Batak berkarya untuk KDT.

Penulis: Boy Tonggor Siahaan

Related posts