Membangun SDM di KDT Dimulai dengan Membangun Kesadaran

JAKARTA, DanauToba.org — Membangun Sumberdaya Manusia (SDM) di Kawasan Danau Toba (KDT) dimulai dengan membangun kesadaran. Hal tersebut adalah rekomendasi yang diungkap dan dikemas dalam Diskusi Kamisan Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) pada Kamis (9/3/2017) di Sekretariat YPDT, Jakarta.

 

Toga Silitonga sebagai pemantik Diskusi Kamisan, (9/3/2017) di YPDT. (Foto: JM)
Toga Silitonga sebagai pemantik Diskusi Kamisan, (9/3/2017) di YPDT. (Foto: JM)

Diskusi Kamisan ini mengusung topik: “Pembangunan SDM Kawasan Danau Toba Berdasarkan Pengalaman Orang Batak Warga Negara Jerman.” Diskusi diawali dengan paparan pengalaman menarik Toga Silitonga sebagai pemantik diskusi. Pak Toga menceritakan kisah pengalaman hidupnya sebagai orang Batak yang tinggal di Bonapasogit (kampung halaman), Tarutung, Sumut. Ia bercerita juga perngalamannya bekerja di perusahaan Amerika di Papua dan perusahaan besar di Jerman. Ia lama menetap di Jerman dan menjadi warga negara Jerman. 

Pak Toga sendiri bisa dibilang adalah orang kampung (par huta-huta). Menurut pandangan kebanyakan orang pada umumnya, par huta-huta (Jawa: wong deso) seringkali dibawa dalam frame (kerangka) negatif seperti tidak tahu apa-apa, miskin, dan bodoh. Padahal sebenarnya belum tentu frame tersebut benar.

Ini dibuktikan sendiri oleh Pak Toga bahwa stigma par huta-huta itu patut diluruskan. Artinya bahwa banyak juga orang kampung mampu meraih kesuksesan dengan kerja keras, disiplin, dan kejujuran.

Ketiga sifat yang disebutkan di atas sudah terinternalisasi dalam diri seorang Toga Silitonga. Dalam keluarganya ia sudah didik untuk bekerja keras, disiplin, dan jujur.

Inilah yang menjadi modal hidup Pak Toga mengarungi perjuangan hidup. Meskipun ia di kampung cuma bersekolah sampai lulus SMEA, namun ia sejak masa bersekolah seringkali diminta mengajar anak-anak di sekolahnya dan di sekolah lain. Menurut Pak Toga, guru-guru pada masa itu kebanyakan cara mengajarnya otoriter. Ia mengkritik cara-cara otoriter tersebut. “Pada dasarnya anak-anak itu tidak ada yang bodoh, cuma masing-masing memiliki daya tangkap memahami pelajaran di sekolah berbeda-beda. Ada anak yang cepat daya tangkapnya, tetapi ada juga yang lambat,” demikian kritik Toga semasa sekolah dulu.

Pangalaman Pak Toga mengajar anak-anak sekolah di kampung membawanya menjadi seorang guru di sebuah Perguruan Cina di Medan.

Dari Medan kemudian ia pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib. Kebetulan ketika ia di Jakarta ada dibuka lowongan kerja di Freeport (perusahaan Amerika), maka ia berangkat ke Biak.

Para peserta Diskusi Kamisan menyimak pengalaman Pak Toga Silitonga. (Foto: JM)
Para peserta Diskusi Kamisan menyimak pengalaman Pak Toga Silitonga. (Foto: JM)

 

“Pada waktu itu banyak orang sudah melamar. Ada yang sudah berbulan-bulan, dan saya baru dua hari di sana. Karena selama tes bekerja itu, orang yang sudah menunggu berbulan-bulan itu merokok sambil kerja, sedangkan saya fokus kerja. Pada akhirnya sayalah yang dipanggil dan diterima bekerja di perusahaan asing tersebut. Padahal saya baru dua hari di sana,” kisah Pak Toga di masa tahun 1964.

Singkat cerita, selama bekerja di perusahaan asing tersebut, Pak Toga bekerja keras, disiplin, dan jujur. Apa saja ia kerjakan ketika bekerja mengurusi kamar-kamar para bos. Ia membersihkan kamar, merapikan tempat tidur, mencuci, memasak, memungut sampah dan puntung rokok, dan sebagainya. Meskipun pekerjaan tersebut dipandang sebagai pekerjaan kaum perempuan, ia tetap mengerjakannya karena sejak kecil hal ini sudah biasa ia kerjakan. Kaum lelaki pun pantas atau layak juga mengerjakan pekerjaan tersebut.

Diskusi Kamisan 2017-03-09 at 19.35.26

Dalam bekerja pun, bapak yang sudah berusia 71 tahun pada saat ini (2017), mengedepankan disiplin dan kejujuran. Berkat kedisiplinannya dan kejujurannya, Pak Toga diberi kepercayaan untuk memimpin sebuah departemen. Tanggung jawabnya adalah mengurusi 600 orang yang berbeda-beda jam kerjanya setiap hari. Orang-orang yang dipimpinnya adalah orang Amerika, Australia Selandia Baru, Thailand, Philipina, dan Indonesia. Ketika itu ia baru berusia 26 tahun.

Setelah cukup lama bekerja di perusahaan tersebut, Pak Toga pergi ke Jerman (ketika itu Jerman Barat). Di Jerman ia melamar kerja di sebuah perusahaan besar. Dari 20 orang pelamar (19 orang Jerman dan ia sendiri orang Indonesia), hanya Pak Toga diterima kerja.

“Di Jerman saya mau belajar dan mau diajari. Kita harus terbuka,” demikian kata Silitonga. “Di Jerman saya termasuk pioneer untuk orang asing. Saya diberi kepercayaan menjadi manajer dan ikut rapat-rapat pimpinan perusahaan. Kepercayaan tersebut tidak saya sia-siakan dan orang-orang Jerman sangat menghargai saya meskipun saya orang asing ketika itu,” lanjutnya.

Jerman termasuk negara di Eropa yang mampu lolos dari krisis ekonomi dunia. Kuncinya terletak di pendidikan. Sekolah-sekolah di Jerman sudah diterapkan ketika anak-anak sekolah setelah kelas 4, mereka ditentukan oleh Sekolah apakah masuk jalur Perguruan Tinggi (Universitas) atau Magang (Fach). Pendidikan Fach adalah dual program, yaitu: setengah waktunya sekolah dan setengah lagi magang (sambil bekerja) di perusahaan-perusahaan. Semua Perusahaan menerima Fach, diawali dengan gaji kecil. Semua bagian dipelajari oleh siswa Fach tersebut. Di Jerman ada sekitar 8.900 Sekolah Fach (Kejuruan). Sekolah Fach inilah yang membuat Jerman lolos dari krisis ekonomi dunia.

Setelah lama tinggal di Jerman dan pensiun, Pak Toga memiliki kerinduan ingin membaktikan pengalaman dan kemampuannya kepada tanah kelahirannya, Tano Batak. Kebetulan ia terlibat dalam misi di Barmen untuk membangun KDT. Dalam misinya tersebut hendak dikerjasamakan dengan YPDT dan lembaga-lembaga lain, salah satunya Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). YPDT akan menyiapkan data di lapangan (KDT) dan HKBP bagian SDM.

“Saya butuh masukan industri kecil apa saja yang tepat untuk awal yang dapat dilakukan secara koperatif. Misalnya nenas atau mangga banyak di KDT, tetapi mengapa tidak dikalengkan untuk dijual ke luar negeri? Tenaga SDMnya dapat saja dilatih (magang) di KDT atau di Jerman (Red.: tergantung kondisi),” demikian kata Pak Toga.

Orang Batak dahulu terbiasa kerja keras. Selain kerja keras, hal yang perlu diubah adalah disiplin dan kejujuran. Kita juga harus teliti dan menguasai bidang yang kita kerjakan. “Saya cinta Batak,” kata Silitonga, “dan saya tidak mau melihat orang Batak tertinggal.”

Untuk mengembangkan SDM orang-orang Batak di KDT, ada hal-hal yang patut kita sadari, antara lain:

  1. bekerja keras
  2. disiplin
  3. jujur
  4. sistematis
  5. telaten/tekun
  6. inisiatif
  7. improvisasi/inovasi
  8. kritis
  9. dapat dipercaya (trust)
Pdt Marihot Siahaan diapit Pak Toga dan Boy. (Foto: JM)
Pdt Marihot Siahaan diapit Pak Toga dan Boy. (Foto: JM)

Diskusi Kamisan ini juga ditanggapi para peserta. Pdt Marihot Siahaan mengatakan bahwa ada persoalan keropos di kampung, yaitu kebersamaan dan kemunduran (dekadensi) mentalitas dan spiritualitas. Pihak yang dianggap paling bertanggung jawab terhadap kekeroposan tersebut adalah tokoh adat, tokoh gereja, dan tokoh pemerintah. Padahal dalam sejarahnya, gereja dahulu bagus, misalnya HKBP dahulu pernah menghibahkan sekolah dan rumah sakit ke pemerintah.

“Di kampung,” lanjut Pdt Marihot, “Kalau kita punya keterampilan dianggap sesuatu yang rendah, maka ini yang perlu disadarkan. Ketika saya berjumpa dengan orang asing (Jerman), saya justru semakin cinta akan jatidiri kita.”

Pdt Marihot mengusulkan supaya ke depan kita buat tim untuk melakukan penyadaran dan membuat pilot project yang dapat dicontoh masyarakat di KDT.

Selain usulan Pdt Marihot di atas, Happy Purnama Munthe mengusulkan juga supaya ada penguatan pendidikan Budi Pekerti (Habatakon) selain pendidikan formal dan pendidikan Kejuruan/Magang (Fach).

Menanamkan nilai-nilai habatakon menjadi kebutuhan mendesak bagi masyarakat Batak, baik di KDT maupun di luar KDT (di Indonesia dan di luar negeri). Jhohannes Marbun (Sekretaris Eksekutif YPDT) menambahkan bahwa ada keterputusan antara budaya Batak dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) karena faktor globalisasi. Budaya Batak seolah-olah terlempar dari pusaran arus globalisasi.

Karena itu, kita perlu membagun kembali kesadaran akan nilai-nilai habatakon. Salah satu yang perlu diperkuat adalah konsep Dalihan Natolu. Dalihan Natolu ini adalah demokrasi orang Batak yang bentuknya Presidium, ada fungsi legislatif, eksekutif, dan yudikatif (pengawasan). Ini semua dijalankan oleh satu keluarga di Batak. Berperan sebagai boru, hula-hula, dan juga dongan sabutuha. Hal ini bisa membentuk pribadi kita yang bisa melakukan 3 fungsi itu sekaligus.

Pak C. F. Sidjabat sedang berbicara, sementara Boy mendengar dari belakang. (Foto: JM)
Pak C. F. Sidjabat sedang berbicara, sementara Boy mendengar dari belakang. (Foto: JM)

Diskusi ini makin tambah menarik dan terjadi dialog. Dalam dialog ini, selain nilai-nilai habatakon,  C. F. Sidjabat juga sepakat perlu menanamkan nilai-nilai kerja keras, disiplin, dan kejujuran seperti yang disampaikan Pak Toga. Kejujuran ini yang terpenting karena kata Pak Sidjabat, “orang-orang yang menjabat di pemerintahan daerah di KDT sudah banyak yang korup. Pernah saya mengajak mereka untuk rapat, mereka bilang: ‘uang duduknya ada tidak pak?’ Bah, belum apa-apa sudah minta uang duduk.”

Mengakhiri Diskusi Kamisan ini, forum diskusi menyepakati rekomendasi pembentukan Tim untuk Permbangunan SDM di KDT melalui membangun kesadaran jati diri kita sebagai orang Batak dengan nilai-nilai habakon dan nilai-nilai lain yang utama seperti kerja keras, disiplin, dan kejujuran. Paralel dengan hal tersebut, Tim akan membuat program yang dapat dicontoh masyarakat untuk dilakukan. (BTS dan JM)

 

Related posts

Komentar (0)

Leave a Comment

Facebook Comments (0)