Mangga Toba Menjadi Model Produk Pemberdayaan Pertanian Bagi Masyarakat KDT

Kamisan 2016-05-26

JAKARTA, DanauToba.org — Diskusi Kamisan di Sekretariat YPDT pada Kamis (26/05/2016) kemarin membahas Model Pemberdayaan masyarakat dengan produk pertanian mangga Toba yang banyak berbuah di Kawasan Danau Toba, salah satunya di Samosir.

Diskusi tersebut dipandu oleh Koordinator Tim Pemberdayaan Masyarakat, Dr. Ronsen M. Pasaribu. Secara kebetulan, Ratnauli Gultom, salah satu petani Mangga Toba yang sukses mengembangkan wine dari Mangga Toba, turut hadir membagikan pengalamannya kepada Tim Pemberdayaan Masyarakat bagaimana mengolah Mangga Toba yang banyak terbuang menjadi produk lain, yaitu: wine.

Ratnauli Gultom bersama suaminya, Thomas Heinle.
Ratnauli Gultom bersama suaminya, Thomas Heinle.

Ratnauli Gultom bersama suaminya, Thomas Heinle dari Jerman, mengembangkan berbagai produk yang dapat dibuat dari bahan dasar mangga, misalnya selai, jus, dan wine. Mereka bahkan merencanakan akan mengembangkan produk lain seperti Yogourt Mangga.

Sebagaimana diketahui, di 7 kabupaten Kawasan Danau Toba (KDT), pertanian masyarakat setempat sejak jaman dahulu telah menanam pohon mangga yang disebut atau dinamai Mangga Toba. Penamaan Mangga Toba bukan diartikan secara administrasi Kabupaten Toba Samosir, tetapi sejarahnya diambil dari tanaman yang tumbuh di daerah bekas letusan Gunung Toba, dengan ketinggian 900 – 920 meter di atas permukaan laut.

Masyarakat di wilayah KDT telah menjadikan Mangga Toba sebagai salah satu tanaman yang dianggap masyarakat bermanfaat bagi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Hal ini ditandai dengan kebiasaan menanam mangga di tanah kosong baik di pekarangan rumah maupun di perladangan.

Masyarakat menanam mangga sebatas cara tradisional. Bahkan tidak jarang masyarakat tanpa merawat, namun pada kenyataannya pohon mangga dapat berbuah dengan jumlah yang banyak dan melebihi kemampuan untuk konsumsi di keluarga sendiri. Biasanya kelebihan panen mangga ini, mereka menjualnya ke pasar lokal. Namun demikian karena setiap panen buah mangga melimpah, pasar tidak mampu menyerap penjualan tersebut, sehingga banyak sekali mangga yang terbuang dengan sia-sia (mubazir).

Ratnauli Gultom bercerita bagaimana ia berusaha membantu masyarakat di Silimalombu, Samosir, di mana ia membudidayakan mangga dengan mengajak para petani mangga lain mengikuti jejaknya.

“Apa yang dilakukan Ratnauli Gultom sudah memperlihatkan kemampuannya menjadi seorang pengusaha (enterpreneur). Inilah yang akan dilakukan oleh YPDT memberdayakan masyarakat di KDT hingga menjadi pengusaha yang sukses,” tanggapan dari Ronsen Pasaribu. Tidak hanya mangga saja bisa dijadikan produk diverifikasi atau diferensiasi, tetapi juga kacang, andaliman, kemiri, dll. (Boy Tonggor Siahaan)

Related posts