KDT Menuju Cyber City Integrated Digital Social Enterprise

IMG_20160616_210128

JAKARTA, DanauToba.org — Banyak orang menganggap bahwa Kawasan Danau Toba (KDT) kurang terbuka terhadap akses informasi. Tidak mengherankan jika masyarakat di sana tertinggal informasi. Ketertinggalan informasi di era cyberspace ini merupakan kerugian yang sangat besar. Meminjam pandangan Bill Gate: “Orang yang memiliki informasi adalah orang yang berkuasa.”

Pertanyaan kritis kita adalah berapa banyakkah orang di KDT mampu mengakses informasi? Bisa kita katakan sangatlah rendah. Mereka yang berasal dari luar KDT sajalah yang mampu mengakses informasi, sehingga mereka mampu menguasai sebagian besar teritorial di KDT.

Melihat keadaan masyarakat di KDT ini, YPDT merasa perlu membuka mata masyarakat untuk melek informasi yang benar. Gagasan Cyber City Integrated Digital Social Enterprise menjadi tujuan yang hendak dicapai. Namun demikian, untuk menuju ke sana, perlu pendekatan kepada masyarakat di KDT secara berkesinambungan.

IMG_20160616_190438

“Untuk mencapai perubahan besar, tidak perlu dari lembaga besar. Akan tetapi, dua atau tiga orang pun bisa,” kata Maruap Siahaan (Ketua Umum YPDT). Karena itu, kita membutuhkan orang-orang yang memiliki passion.

Banyak orang menstigma bahwa orang Batak di KDT itu kurang kreatif. Mardi F. N. Sinaga justru menepis stigma tersebut. Menurutnya: “Orang Batak itu dapat mengantisipasi sesuatu di balik yang tidak diketahui banyak orang.” Ini berarti orang Batak sangat kreatif, tidak terkecuali mereka yang tinggal di KDT.

IMG_20160616_183041

Terkait dengan topik Diskusi Kamisan saat ini, Kamis (16/6/2016), Sinaga mengatakan bahwa masyarakat kita belum berperilaku digital (native digital), meskipun sehari-hari tidak dapat lepas dan bergantung pada benda digital, seperti HP, televisi, dll. Mengapa demikian? Karena agar kita menjadi native digital, kita harus mampu saling berjejaring (networking) dengan yang lain, baik personal maupun institusional. Selama ini kita menggunakan alat digital sebatas pemakaian personal.

Menurut Sinaga, ada 4 hal yang dibutuhkan untuk menjadi integrated digital social enterprise:

Pertama, knowledge (pengetahuan)

Pengetahuan sangat dibutuhkan dalam penguasaan aplikasi digital, sehingga tidak menghambat akses mengeksplorasi berbagai aplikasi digital. Selain pengetahuan tersebut, kita juga mampu menguasai pengetahuan akan produk atau jasa yang hendak kita sampaikan kepada orang lain atau organisasi/lembaga lain.

Kedua, Akses Finansial

Finansial memang kita butuhkan. Karena itu, kita perlu mencari sumber-sumber finansial yang dapat diakses. Di dunia maya sumber-sumber finansial itu terserak begitu banyak, tergantung kegigihan kita untuk mengeksplorasinya.

Ketiga, ekosistem sosial

Kita perlu menciptakan ekosistem sosial dan mempersiapkannya serta mengelolanya dengan baik. Media sosial menjadi kendaraan yang berdaya guna untuk memperluas ekosistem sosial yang kita ciptakan.

Keempat, Standarisasi rencana bisnis

Yang terakhir kita membuat rencana bisnis. Agar rencana bisnis tersebut berjalan dengan baik dalam sosial ekosistem, maka standarisasi menjadi penting agar tujuan atau visi dapat tercapai.

Penulis: Boy Tonggor Siahaan

Related posts