Seandainya Danau Toba Bisa Bicara, Apa yang Akan Dikatakannya?

Tona ni Tao

JAKARTA, DanauToba.org  Seandainya Danau Toba bisa bicara, apa yang akan dikatakannya? Inilah latar belakang diselenggarakannya Acara “Tona ni Tao, Pesan dari Danau Toba” di Ball Room, Hotel Lumire, Jakarta Pusat, pada Jumat malam (8/9/2017). Hal tersebut disampaikan Ramson Ambarita, salah satu Manajer Hotel Lumire.

Tona ni Tao
Edward F. Tahalele, General Manager Hotel Lumire, menyerahkan Donasi tersebut yang diterima Maruap Siahaan mewakili Pengurus YPDT.

Lebih lanjut Ramson Ambarita mengatakan bahwa Acara Tona ni Tao merupakan acara untuk mempromosikan pariwisata dan ajakan untuk melestarikan Danau Toba.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menetapkan Danau Toba sebagai destinasi unggulan pariwisata Indonesia (Wonderful Indonesia) di wilayah Sumatera Utara, pada umumnya, dan Kawasan Danau Toba, pada khususnya. Karena Danau Toba peruntukkannya sebagai tujuan utama wisata, maka segala bentuk yang merusak keindahan alam dan lingkungan hidup di Kawasan Danau Toba harus segera diperbaiki dan diselesaikan secara tuntas.

Tona ni Tao. Tao sebagai ciptaan Tuhan. Alam dan manusia serta relasi di antara mereka. Dahulu air Danau Toba bersih dan menjadi sumber kehidupan, kedamaian, dan keindahan. Sekarang jadi beban kita semua. Masyarakat terbelenggu kemiskinan dan beberapa orang menikmati hasil alam lewat exploitasi. Tona ni Tao… Suara Tuhan kepada semua insan. Pulihkan Danau toba ciptaan Tuhan. Pesan buat semua umat dan buat semua generasi untuk kesejahteraan generasi ke generasi,” tegas Ketum YPDT yang masa kecilnya dihabiskan di Kawasan Danau Toba.

Maruap Siahaan, Ketua Umum Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT), dalam sambutannya pada pembukaan Acara Tona ni Tao menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada pihak penyelenggara, Hotel Lumire, yang memberi perhatian khusus kepada Kawasan Danau Toba (KDT). YPDT akan terus memperjuangkan pelestarian lingkungan hidup dan budaya Batak di Kawasan Danau Toba. “Kita akan mewujudkan Kawasan Danau Toba sebagai Kota Berkat di Atas Bukit,” ujar Maruap Siahaan dengan penuh semangat.

Ramson Ambarita menegaskan bahwa Hotel Lumire memilih YPDT karena YPDT adalah lembaga yang sangat konsisten dalam visi dan misinya untuk melestarikan Kawasan Danau Toba dan Budaya Batak. Perjuangan dan kekonsitenan YPDT sudah terbukti nyata, misalnya memperjuangkan pemulihan perairan Danau Toba melalui ranah litigasi dan non-litigasi yang sudah berjalan dan masih berproses sejak Januari 2016 (Red.: Lihat Kolom Siaran Pers di website danautoba.org tentang Proses Persidangan di PTUN Medan, PN Balige, dan PTUN Jakarta yang belum lama ini sudah bersidang beberapa kali. YPDT pun masih menunggu persidangan yang akan digelar di PN Jakarta Pusat). “Saya sudah cari di Google, terbukti YPDT konsisten dengan perjuangannya. Di Media Sosial pun YPDT pernah viral terkait Keramba Jaring Apung,” ungkap Ramson Ambarita yang merasa sedih melihat kerusakan Danau Toba.

Tona ni Tao
Meja di mana Sabam Sirait beserta keluarga turut hadir.

Sebagai bentuk apresiasi apa yang sudah dilakukan YPDT untuk pelestarian Danau Toba secara konsisten, pihak Hotel Lumire dan beberapa sponsor yang mendukung acara tersebut memberikan donasi untuk pelestarian Danau Toba melalui YPDT. Edward F. Tahalele, General Manager Hotel Lumire, menyerahkan Donasi tersebut yang diterima Maruap Siahaan mewakili Pengurus YPDT dan disaksikan para hadirin, termasuk Sabam Sirait (politikus senior dari Batak) beserta ibu dan keluarganya yang turut hadir.

Maruap Siahaan menyatakan bahwa donasi tersebut akan dipergunakan secara bertanggung jawab dan transparan. “Danau Toba milik kita semua dan diwariskan ke anak cucu kita,” seru Ketum YPDT.

Tona ni Tao
Andaru Satnyoto sedang memaparkan kegiatan YPDT.

Dalam Acara tersebut hadir juga Andaru Satnyoto (Sekretaris Umum YPDT) yang juga sempat menyampaikan kegiatan-kegiatan pelestarian Danau Toba yang dilakukan YPDT, Pdt. Marihot Siahaan (Sekretaris YPDT), Jhohannes Marbun (Sekretaris Eksekutif YPDT), Luter P. Munte (Bendahara YPDT), Berlin Situngkir (Perkumpulan Sipartogi), Dr. Ronsen Pasaribu (Ketua Umum Forum Bangso Batak Indonesia), Susi Rio br. Panjaitan (Pegiat Anak dari Yayasan Rumah Anak Mandiri), Ocha Sihombing (Naposo Batak Jabodetabek), Ida Banjarnahor (Naposo Gereja), Sondang Monaliza Debataraja (Naposo Gereja), Victor Ambarita (Majalah Suara HKBP), dan Boy Tonggor Siahaan (pewarta Batak yang tergabung pada Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia dan Staf YPDT).

Tampak juga tamu yang hadir berasal dari Australia, di antaranya: Hank van Apeldoorn, Jim Zeiher, Jonathan Hunter (Direktur Eksekutif Australian Volunteer International – AVI, perwakilan di Jakarta), dan staf/karyawan AVI. Acara Tona ni Tao ini dimeriahkan artis-artis Batak antara lain: Jack Marpaung, Rani Simbolon & Dorman Manik, RNB Singer, Mata Radja Band, dan Tortor 5 puak. (Boy Tonggor Siahaan)

Uncategorized

Related posts

Komentar (0)

Leave a Comment

Facebook Comments (0)

G+ Comments (1)