Latar Belakang YPDT

Latar Belakang Berdirinya Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT)

 

Danau Toba selalu menyimpan segudang sejarah alam dunia. Dalam diam, dia menentukan rantai peradaban manusia. Bahkan, para peneliti arkeologi memiliki keyakinan bahwa danau ini pernah mengancam keberadaan spesies manusia. Ekspedisi Cincin Api Kompas (2014:13) menyatakan “Dia tersembunyi dibalik elok lanskap bumi, tertidur tenang. Namun, saat terbangun, letusannya menghancurkan peradaban manusia. Dialah Toba, gunung api raksasa, yang letusannya pada 74.000 tahun lalu menjadi terkuat di bumi dalam dua juta tahun terakhir”.

Kehadiran masyarakat Batak yang telah sekian lama mendiami daerah ini dapat dijadikan sebagai pokok perhatian utama. Mereka berdinamika bersama kondisi alam yang adalah hasil letusan super-vulkanik Toba. Adaptasi kultural mereka dengan berjuta peristiwa sejarah di sekitar Danau Toba ini pada akhirnya membentuk peradaban yang sering dikenal dengan kebudayaan Batak, yang memiliki etos kerja yang kuat dan dinamis.

Pada saat ini dan ke depan, kita terus membangun kesadaran masyarakat di dalam maupun di luar Kawasan Danau Toba, bahwa menikmati alam Danau Toba sebagai karunia Tuhan Allah harus sejajar, harus sejalan dengan tanggung jawab merawat, memelihara, dan melestarikan keindahan alam Danau Toba dan Kawasannya.

Usaha melestarikan Kawasan Danau Toba saat ini diperkuat pula oleh Penetapan Danau Toba sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) berikut dengan rencana tata ruang kawasannya oleh Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Presiden RI nomor 81 tahun 2014. Untuk itu kita juga mendukung usaha menjadikan Kawasan Danau Toba sebagai salah satu situs Taman Bumi Dunia, sebagai International Geopark, sebagai Taman Bumi dengan danau kaldera (gunung api) terbesar dunia oleh UNESCO (Badan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa).

Danau Toba merupakan salah satu reservoir air tawar (fresh water) terbesar di Asia Tenggara, memiliki dampak lingkungan sekitarnya. Kondisi Danau Toba dilihat dari berbagai perspektif, dapat dijadikan sebagai indikator lingkungan Kawasan Regional Sumatera dan Asia Tenggara. Dampak pengaruh alam Kawasan Danau Toba pada masa lalu telah memberikan gambaran besarnya pengaruh kawasan ini bagi daerah sekitarnya, Regional Asia Tenggara bahkan dunia. Danau Toba telah menjadi fenomena alam yang sangat luar biasa. Untuk itu, perlu dikelola secara baik agar memberikan dampak positif dan sebagai sumber penghidupan masyarakat “kini dan nanti”.

Namun demikian, kita menyadari pula bahwa akhir-akhir ini, terutama sejak tahun 1990-an, kualitas lingkungan Kawasan Danau Toba mulai mengalami penurunan seiring dengan eksploitasi alam hutan, air danau, dan pertambahan penduduknya. Usaha pengelolaan Kawasan Danau Toba secara lestari memerlukan sinergi semua pihak, Pemerintah dan Swasta, serta masyarakat umum lainnya: nasional dan internasional/mondial.

Dalam kerangka pemikiran dan tindakan pelestarian Danau Toba yang komprehensif itulah Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) atau Lake Toba Heritage Foundation hadir sejak 17 Agustus 1995, berfungsi menjembatani kebersamaan semua pihak pemerhati, yang peduli dan pencinta Danau Toba dan kawasannya. YPDT didirikan oleh sejumlah tokoh lintas masyarakat Batak dan Indonesia: Prof. Dr. Midian Sirait, Ir. Sarwono Kusumaatmaja, Jend. TNI (Purn.) M. Panggabean, Mayjen TNI (Purn.) A.E. Manihuruk, Drs. Inget Sembiring, Mayjen TNI (Purn.) Haposan Silalahi, Letjen TNI (Purn.) Raja Inal Siregar, Dr. Ir. H. Akbar Tanjung, Drs. Christian Tumanggor, Brigjen TNI (Purn.) Marjans Saragih, Sarman Damanik, S.H., Mayjen TNI (Purn.) R.K. Sembiring Meliala, Jansen H. Sinamo, Dr. Master P. Tumanggor, Prof. Dr. Payaman Simanjuntak, Prof. Dr.-Ing K. Tunggul Sirait, dan beberapa tokoh nasional lainnya.

YPDT secara sinergis dan simultan berusaha menjembatani kerjasama-kerjasama internasional (eksternal) dan sekaligus mewadahi dan menghimpun gerakan masyarakat (internal) untuk melestarikan Kawasan Danau Toba. YPDT mendorong dan mengusahakan agar seluruh aktivitas di Kawasan Danau Toba mengikuti “standar hijau”; standar pengelolaan dan pemanfaatan lingkungan secara berkelanjutan (sustainable).