Remaja Baktiraja Beri Teladan Bersihkan Danau Toba dari Sampah-sampah

GACDT 1

BAKTIRAJA, DanauToba.org Tertarik membaca tulisan “Gerakan Aku Cinta Danau Toba (GACDT) SMA Negeri 1 Baktiraja” pada punggung kaos seorang remaja laki-laki di sebuah kedai kopi milik Nainggolan, saya sedikit tergugah. Rupanya bukan Gerakan Cinta Danau Toba (GCDT) saja yang sudah dua kali kami lakukan, tetapi ada juga gerakan serupa yang dilakukan mereka.

Tulisan "Gerakan Aku Cinta Danau Toba" pada kaos belakang seorang remaja Baktiraja. (Foto: JM, 2017)
Tulisan “Gerakan Aku Cinta Danau Toba” pada kaos belakang seorang remaja Baktiraja. (Foto: JM, 2017)

Siapakah mereka? Mereka adalah Siswa SMA Negeri 1 Baktiraja, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara. Remaja lelaki berkaos tulisan GACDT tersebut bernama Angga. Angga merupakan salah satu Siswa SMA tersebut.

Angga sendiri menceritakan bahwa GACDT sudah ada sejak 2013 yang diinisiasi oleh Siswa SMA Negeri 1 Baktiraja. Ketua GACDT pertama adalah Swando Nadi Simanullang (eks Ketua Osis) dan didampingi oleh guru SMA 1 Baktiraja, Bapak Andi Harianja.

Saya bersama Angga Simanullang. (Foto: JM, 2017)
Saya bersama Angga Simanullang. (Foto: JM, 2017)

Alasan berdirinya GACDT ini berawal dari banyaknya Keramba (bagan) yang menyebabkan keindahan di Kawasan Danau Toba (KDT) tersebut menurun dan berdampak pada turunnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bakara. “Kalau memandang ke sekeliling Danau Toba yang ada di kawasan itu selalu ada Keramba Jaring Apung (KJA),” ujar Angga menjelaskan. Di samping itu kawasan Bakara banyak sampah, dan komunitas GACDT melakukan kegiatan gotong-royong membersihkan sampah yang berserakan di pinggir Danau Toba, sekolah maupun pinggir jalan dua kali dalam sebulan pada hari Sabtu. Namun pada awal-awal pembentukan komunitas GACDT, kegiatannya tidak terlalu aktif, karena dia (Swando Nadi-Red) anak pramuka dan Ketua OSIS juga, sehingga harus membagi waktu. Karena itu, GACDT pertama tidak terlalu aktif, tetapi dasarnya sudah terbentuk.

Setelah kepengurusan berikut mulailah bangkit lagi pada 2015. Pengurus GACDT yang dimulai menjalankan absensi dan melakukan kegiatan secara rutin. Ketua GACDT pada 2015 adalah Togi Lumban Gaol, dan kemudian dilanjutkan kepengurusan berikutnya Irma Lase yang terpilih pada Juni 2016. Adapun kepengurusan tahun 2016–2017 di antaranya Irma Lase (lulus 2017) sebagai Ketua, Joshua Amran Simamora (Kelas 2 SMA) sebagai Wakil Ketua, Angga Simanullang (Kelas 2 SMA) sebagai Sekretaris, dan Tama Arca Sinambela (Kelas 2 SMA) sebagai Bendahara. Jumlah anggota saat ini sekitar 40 orang dari 370 orang siswa SMA Negeri 1 Baktiraja. Tidak banyaknya siswa yang ikut GACDT karena ada juga yang ikut Pramuka, Siswa Pencinta Alam (SISPALA), maupun kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Angga berharap, dengan aktifnya kegiatan kegotong-royongan, selain bersih, maka diharapkan dapat menambah daya tarik wisata. Selain itu, ke depannya di setiap titik-titik wisata, tersedia tempat sampah, dan juga ada kendaraan pengangkut sampah berikut tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Hal ini sangat diperlukan karena selama ini sampah yang telah dikumpulkan kembali berserakan karena memang tidak ada tempat pembuangan akhir. Bahkan tak jarang, sampah yang telah dikumpulkan, akhirnya dibuang ke pinggir Danau Toba, sebagaimana masih  kita saksikan di Dermaga.

Sampah-sampah di pinggir Danau Toba. (Foto: JM, 2017)
Sampah-sampah di pinggir Danau Toba. (Foto: JM, 2017)
Sampah-sampah dan enceng gondok di dermaga Baktiraja. (Foto: JM, 2017)
Sampah-sampah dan enceng gondok di dermaga Baktiraja. (Foto: JM, 2017)

Inilah pengalaman saya berjumpa dengan remaja Batak yang masih peduli dengan Danau Toba. Pada Sabtu-Minggu, 22-23 April 2017 lalu, saya mengunjungi daerah Bakara dan mengunjungi obyek-obyek wisata di sana dan menginap di tempat ito yang baik hati, Lala Banjarnahor. Kunjungan saya melihat obyek wisata Aek Sipangolu pada Minggu Siang (23/4/2017) tersebut memberi kesan menarik ketika bangga melihat remaja-remaja Batak GACDT ini.

Sampah-sampah dan enceng gondok di bawah jembatan dermaga Baktiraja. (Foto: JM, 2017)
Sampah-sampah dan enceng gondok di bawah jembatan dermaga Baktiraja. (Foto: JM, 2017)

Senada apa yang dilakukan remaja-remaja tersebut, Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) pun pernah melakukan kegiatan seperti mereka. Nama kegiatannya pun mirip: Gerakan Cinta Danau Toba (GCDT). YPDT telah melaksanakan GCDT sebanyak dua kali secara berturut-turut pada 2015 dan 2016. Ada tiga kegiatan utama dalam GCDT tersebut, yaitu: Sowing, Clean, and Green (Tabur, Bersihkan, dan Hijaukan). Selain ketiga kegiatan utama tersebut, ada juga kegiatan lain yang turut menyumbang pariwisata di KDT, seperti Jelajah Wisata dan dan Festival Budaya.

Bicara pariwisata, di KDT masih banyak orang belum mengetahui daerah Bakara yang banyak menawarkan obyek-obyek pariwisata menarik.

Lokasi wisata Aek Sipangolu. (Foto: JM, 2017)
Lokasi wisata Aek Sipangolu. (Foto: JM, 2017)

 

Bakara dapat juga dijadikan salah satu tujuan wisata yang menarik selain Kota Parapat, Tuktuk, Tomok, Pantai Parbaba, Pantai Bulbul, ditambah dengan beberapa daerah lain yang akhir-akhir ini tumbuh dan berkembang. Bakara lebih dikenal sebagai daerah kelahiran Sisingamangaradja XII, Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Di daerah Bakara, kita dapat mengunjungi obyek wisata seperti Tombak Sulusulu, Air Terjun Janji, Hariara Tungkot, Hariara dan Tugu Marbun, dan Aek Sipangolu.

Teman-teman yang memanduku, Banjarnahor bersaudara di Kedai Nainggolan. (Foto: JM, 2017)
Teman-teman yang memanduku, Banjarnahor bersaudara di Kedai Nainggolan. (Foto: JM, 2017)

 

Penulis: Jhohannes Marbun (Sekretaris Eksekutif YPDT)

Related posts

Komentar (1)

One Thought to “Remaja Baktiraja Beri Teladan Bersihkan Danau Toba dari Sampah-sampah”

  1. Terima kasih kepada danautoba.org yang telah mem-publish keberadaaan GACDT ini. Seperti yang disebutkan diatas, saya, Suwandonadi Manullang (Meski salah membuat namanya), kurang benar adanya sebagai ketua pada saat itu. Saya hanya sebagai founding father, bersama rekan dari OSIS. Alasan saya tidak menjadi ketua pada saat itu adalah, benar adanya yang disebutkan diatas, karena saya sebagai ketua OSIS dan Wakil Pimpinan Sanggah di Pramuka. pada saat itu. Sehingga yang menjadi ketua pada saat itu adalah Bostan Pascal Manullang. Namun, dengan sejujurnya, saya tidak lepas tangan akan hal itu, saya tetap bekerja bersama dengan BPH meskipun masih aktif sebagai ketua di OSIS dan Wakil Pimpinan sanggah di Pramuka. Dan saya rasa pun, GACDT sangat aktif pada saat itu, bahkan sampai disambut baik oleh BP-EKDT dengan memberikan kaos dan beberapa sumbangan lain. Dan pada saat itu, saya diundang untuk menghadiri acara tersebut. Permasalahan utama pada saat itu adalah kurangnya semangat siswa dan juga kurangnya dana yang menyokong. Namun, dengan rahmat TYME, BP-EKDT menjanjikan bantuan untuk pengembangan GACDT ini.

    Sebagai tambahan, selain latar belakang pembentukan GACDT yang sudah dipaparkan diatas, GACDT ini pada dasarnya diawali oleh adanya pertemuan ketua OSIS sekolah yang ada di sekitaran Danau Toba dan seluruh ketua OSIS dan Kepsek menyatakan komitmen terhadap Danau TOba (Kepedulian). Nah, berdasar dari itu, saya bekerja sama dengan rekan lain, membentuk GACDT yang disahkan oleh Kepala Sekolah pada saat itu. Dan GACDT ini adalah satu-satunya GACDT (tingkat sekolah) yang terbentuk dari sekian sekolah yang hadir pada pertemuan itu.

    Akhir kata, saya ucapkan terima kasih kepada DanauToba.org yang telah mem-publish keberadaan GACDT ini. Harapannya dapat memotivasi masyarakat, khususnya pemuda dan remaja untuk lebih ‘care’ terhdap Danau Toba kedepannya.

    Terima Kasih.

    Teriring salam,

    Suwandonadi Manullang

Leave a Comment

Facebook Comments (0)

G+ Comments (0)