Pariwisata Danau Toba Membutuhkan Pembenahan Serius

Danau Toba

JAKARTA, DanauToba.org — Publik Indonesia sudah mengetahui bahwa Kawasan Danau Toba telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia sebagai salah satu dari 10 destinasi unggulan pariwisata di Indonesia. Hal tersebut sudah digulirkan pemerintah sejak 2015 dan pada 2016 menjadi titik berangkatnya, apalagi setelah dikeluarkannya Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2016 Tentang Badan Otorita Pengelolaan Kawasan Pariwisata Danau Toba. Sejak tahun tersebut hingga sekarang tampaknya pariwisata Danau Toba membutuhkan pembenahan serius.

Danau Toba
Hank di Danau Toba

Baca juga:
INILAH PERATURAN PRESIDEN RI NOMOR 49 TAHUN 2016 TENTANG BADAN OTORITA PENGELOLAAN KAWASAN PARIWISATA DANAU TOBA

Hal itu terlihat dari hasil pengamatan (survei) yang dilakukan Hank van Apeldoorn sejak kunjungannya di Kawasan Danau Toba pada Agustus dan November 2017. Apeldoorn memaparkan hasil pengamatannya bahwa Kawasan Danau Toba (KDT) membutuhkan pembenahan serius jika KDT benar-benar hendak menjadi destinasi pariwisata yang menarik banyak turis-turis lokal dan mancanegara.

Di hadapan Pengurus Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) dan beberapa sahabat Danau Toba, khususnya yang bergabung dengan Gerakan Cinta Danau Toba (GCDT), pada Jumat malam (2/2/2018) di Kantor Sekretariat YPDT, Jakarta setelah acara Ibadah Syukur Tahun Baru 2018, Apeldoorn mengatakan bahwa ada hal-hal yang perlu dibenahi, antara lain:

Baca juga:
LAPORAN GCDT III 2017 DITERIMA PENGURUS YPDT DALAM ACARA IBADAH SYUKUR TAHUN BARU 2018

Pertama, masalah serius sarana dan prasarana jalan utama. Apeldoorn mengamati bahwa banyak jalan-jalan utama yang rusak, khususnya ke lokasi wisata unggulan. Sebagai contoh, jalan utama Bandara Silangit, Pangururan, Silalahi, dan lain-lain. Kualitas jalan sangat buruk. Kadang-kadang jalan menjadi rusak karena dilalui truk-truk besar yang melebihi kapasitas tonase, dan bus-bus. Selain itu, masih sangat minim pihak pemerintah setempat membuat jalan-jalan setapak atau trotoar bagi pejalan kaki.

Jalan rusak di KDT

Kedua, ketidaktahuan akan masalah kesehatan dan keselamatan kerja yang sangat mendasar pada fasilitas akomodasi dan perhotelan. Sebagai contoh, toilet yang tidak memadai atau kabel-kabel listrik terpapar begitu saja sehingga dapat menimbulkan bahaya.

Ketiga, kurangnya pemahaman konsep antara “customer service” dan “visitor service“. Sebagai contoh, staf di beberapa hotel atau restoran terus berbicara satu sama lain atau bermain dengan HP mereka dan tidak memperhatikan pengunjung yang masuk. Sebagian besar staf tidak tersenyum atau bahkan tampak cemberut saat berbicara dengan pengunjung; dan banyak staf tampaknya tidak sangat membantu dalam melayani pengunjung. Ada juga beberapa staf membuat lelucon tentang pengunjung yang datang.

Keempat,  Kurangnya rambu jalan yang jelas untuk menginformasikan pengunjung tentang arah dan jarak dan kondisi ke destinasi. Misalnya, kebanyakan rambu jalan yang memberi nama tujuan tidak menunjukkan jarak ke tempat tujuan tersebut.

Kelima, pilihan akomodasi yang terbatas bagi pengunjung.

Keenam,  Angkutan umum bagi pengunjung masih banyak yang kurang layak. Di daerah Danau Toba ada banyak layanan bus umum antardaerah. Namun, banyak bus dalam kondisi sangat buruk, dan mereka semua harus melakukan perjalanan di jalan-jalan buruk yang seperti yang dijelaskan di atas. Mungkin kapal feri listrik tenaga surya sebagai transportasi massal dibutuhkan di Danau Toba di masa depan.

Selain sarana dan prasarana publik yang dijelaskan tersebut, di KDT juga masih kurang perangkat penunjang lainnya, seperti:

  • Tanda peringatan bahaya pada lokasi-lokasi seperti jurang, tanah licin, bahaya longsor, dan lain-lain.
  • Sangat minimnya tersedia papan informasi yang menjelaskan tentang lokasi wisata. Kalaupun ada, hal itu sekadar informasi singkat.
  • Kurangnya bahan brosur pariwisata, informasi pariwisata umum dan tidak ada pusat informasi pengunjung yang jelas. Jika salinan brosur peta dan brosur pariwisata tidak tersedia, salah satu cara untuk menyediakan
    jenis informasi yang sama yang dicari oleh pengunjung adalah melalui penyediaan “information bays” atau “information murals“.
  • Masih kurang untuk mengoptimalkan lokasi-lokasi wisata yang dapat diakses pengunjung ke fasilitas tertentu atau membuat daya tarik yang menggugah pengunjung. Ada beberapa lokasi menarik yang berpotensi menjadi ramai dikunjungi wisatawan, tetapi sayang ada tembok yang menghalangi pengunjung memperhatikan lokasi tersebut.
  • Pemerintah Indonesia dan juga masyarakat lokal masih kurang berupaya menginformasikan potensi Danau Toba sebagai nominasi situs Geopark kepada para pengunjung atau masyarakat luas.
Contoh Lokasi wisata yang tertutup tembok
Contoh Lokasi wisata yang tertutup tembok
Contoh Papan Informasi
Contoh Papan Informasi
Contoh pemasangan spanduk yang salah tempat.
Contoh pemasangan spanduk yang salah tempat.
Information bays or information murals
Information bays or information murals

Apeldoorn juga menyatakan bahwa ada potensi besar untuk mengembangkan kapasitas lokal pariwisata berkelanjutan di KDT. Beberapa hal yang ia sarankan sebagai berikut:

  • Mempromosikan pengembangan banyak homestay yang dikelola masyarakat Batak lokal. Peluang tersebut dapat dibicarakan dalam suatu seminar atau program-program pelatihan bersama masyarakat terpilih dan merencanakan pencarian dana, misalnya mengajukan proposal kepada Kedutaan Australian melalui bantuan Direct Aid Program (DAP).
  • Peluang besar mengembangkan agrowisata (farm tourism) yang juga dapat menyertakan argowisata homestay, memberi kesempatan kepada para pengunjung mengerjakan aktivitas pertanian dan peternakan, dan menjual hasil pertanian/perternakan serta membuat suvenir menarik.
  • Dapat juga diusulkan konsep yang dikembangkan Albergo Diffuso dengan Pariwisata Desa ala Italia.
Danau Toba dari sudut Silalahi.
Danau Toba dari sudut Silalahi.

Di akhir presentasinya, relawan dari AVI (Australian Volounteer International) untuk membantu YPDT ini, menyimpulkan bahwa  pengembangan kapasitas lokal menuju pariwisata berkelanjutan dalam membuat lokakarya  dan forum pelatihan atau program pelatihan lainnya perlu berfokus pada topik bahasan berikut ini:

  • Pelayanan kepada pengunjung wisata.
  • Kesehatan dan keselamatan kerja dalam konteks fasilitas dan bisnis pariwisata dan perhotelan.
  • Mempraktekkan bagaimana mengembangkan keramahtamahan.
  • Mempraktekkan secara berkelanjutan hal-hal seperti pengomposan, daur ulang sampah, pengolahan dan pemanfaatan ulang limbah.
  • Pemasangan tenaga surya dan pembangkit energi biomassa, perumahan surya pasif dan desain bangunan serta peluang transportasi umum bertenaga surya, dan lain-lain.
  • Pembuatan papan informasi  untuk meningkatkan kunjungan lapangan bagi pengunjung.
  • Lokakarya perencanaan dan pengembangan lokasi wisata untuk memberi daya tarik pariwisata.

(Tulisan ini diolah Boy Tonggor Siahaan dari bahan presentasi yang disampaikan Hank van Apeldoorn)

Related posts

Komentar (0)

Leave a Comment

Facebook Comments (0)

G+ Comments (1)