Panitia GCDT II Terbentuk

WhatsApp Image 2016-09-22 at 21.41.16

JAKARTA, DanauToba.org — Gerakan Cinta Danau Toba (GCDT) sudah menjadi kegiatan tahunan Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT). Pada 2015, GCDT I berhasil dilaksanakan di 7 kabupaten. Gaung GCDT I tersebut dirasakan bermanfaat bagi masyarakat di Kawasan Danau Toba (KDT). Salah satunya adalah masyarakat di Kabupaten Dairi. Mereka menantikan kembali GCDT II tahun 2016 ini.

Pada tahun ini, Pengurus YPDT memfokuskan kegiatan GCDT II bertempat di satu kabupaten. Kabupaten Dairi memperoleh kehomatan menjadi panitia inti yang berkoordinasi dengan panitia pusat di Jakarta. Kabupaten Dairi terpilih karena perwakilan YPDT di Dairi mampu melibatkan seluruh lapisan masyarakat mulai dari anak-anak, remaja, pemuda, orang dewasa dan orangtua, sampai orang lanjut usia. Selain itu, kegiatan GCDT II ini pun akan fokus pada generasi muda Batak, antara lain anak-anak, remaja, dan pemuda.

Membumikan GCDT II 2016.
Membumikan GCDT II 2016.

Generasi muda Batak harus dibekali untuk menjaga warisan budaya Batak dan menjaga pelestarian lingkungan hidup KDT. Kalau bukan mereka siapa lagi? Tidak mungkin kita menyerahkan semuanya itu kepada pihak lain di luar bangso Batak. “Kitalah yang mempersiapkan mereka menerima warisan tersebut,” demikian kata Jerry R. H Sirait (Pengawas YPDT) membuka percakapan pembentukan Panitia GCDT II 2016 dalam ruang Diskusi Kamisan pada Kamis (22/9/206).

Generasi muda Batak tidak boleh jadi penonton atas kampung halamannya (bonapasogit). Merekalah pelaku (subyek) yang mengendalikan, mengatur, menata, dan mengelola tanah leluhur mereka. Namun demikian, kenyataannya sekarang tanah leluhur kita “menderita” karena kerusakan dan pengrusakan lingkungan hidup di KDT serta makin lunturnya warisan leluhur kita. KDT tergerus oleh kapitalisme (atau neo-kapitalisme). Kita perlu menyuarakan pertobatan ekologis karena tidak mungkin 1 atau 2 orang meguasai jutaan orang.

GCDT I 2015 lalu sudah menggaungkan suara kenabian pertobatan ekologis. Pada GCDT II 2016 ini, kita berharap dapat melakukan pertobatan ekologis tersebut dan juga mengacu pada Mazmur 150 (puji-pujian bagi TUHAN). Kita berharap melalui GCDT II 2016 ini akan tercapai:

  1. wahana syukur
  2. wahana berdoa
  3. wahana bertobat
  4. wahana menggalang semangat partispatoris dan memperjuangkan persoalan yang muncul akhir-akhir ini.

Keempat wahana tersebut menjadi fondasi pelaksanaan GCDT II 2016.

Dr. Ronsen Pasaribu (salah satu pengurus YPDT dan juga Ketua Umum Forum Bangso Batak Indonesia) menyetujui fondasdi tersebut. Pasaribu menyatakan bahwa YPDT dan FBBI sudah sejalan untuk melanjutkan GCDT. Kegiatan GCDT harus mampu membangkitkan rasa cinta pada Danau Toba dan bonapasogit, baik dari panitia pelaksana maupun masyarakat yang terlibat mengikutinya. Karena itu, usul Pasaribu perlu dilakukan roadshow, panel, dan kegiatan di lapangan, serta tepat sasaran.

Salah satu peserta diskusi, Sijabat, menyambut baik pelaksanaan GCDT II 2016 dipusatkan di Sipartogi. Penyelenggaraan GCDT II ini tentu akan mengangkat desa kami yang jauh tertinggal dari desa-desa lain di Kabupaten Karo.

Edward Simanungkalit menambahkan bahwa Sipartogi merupakan daerah tiga budaya. Secara teritori sebenarnya Karo, tetapi secara sejarah itu daerah Simalungun sampai ke Partugori. Dalam acara GCDT II ini perlu diberikan porsi 3 budaya (Toba, Simalungun, dan Karo). Tugu Silalahi secara tugu adalah batanghari, tetapi secara lokasi masuk matanari. Perlu tetap disebarkan “virus” GCDT ke beberapa daerah.

Purnama munthe membenarkan bahwa di Tongging sejarahnya begitu. Kalau memang tidak menguasai budaya, kita seringkali mencampur-campur budaya dan ini akan merepotkan. Oleh karena itu, saya sebagai seniman mencoba menjadi pelaku seni yang benar. Selama ini saya mencari tempat yang bisa menaungi itu. Akhirnya kami memiliki tempat bernaung, yaitu YPDT.

Menanggapi diskusi, Silalahi berkomentar tidak melulu budaya yang kita tampilkan, tetapi penting juga ditampilkan pengembangan ekonomi masyarakat dan kreativitas lainnya, sehingga ada kreasi baru.

Berlin Situngkir (yang sebelumnya didaulat jadi Ketua Umum Panitia GCDT) mengatakan berterimakasih kepada YPDT atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Dairi, secara khusus Sipartogi, menjadi panitia inti. Kami merasakan bahwa GCDT tahun lalu sangat bermafaat bagi masyarakat karena ini adalah gerakan semangat dan mental. di kampung kami selama ini kurang diperhatikan pemerintah. Oleh karena itulah hal ini kami anggap sebagai berkat dan membuat kami tambah bersemangat.

Pada keesokan harinya, Jumat (23/9/2016), beberapa pengurus YPDT mengadakan rapat untuk pembentukan Panitia GCDT II 2016. Dari hasil rapat tersebut terbentuklah:

PANITIA PELAKSANA GCDT II

  • Ketua Umum : Drs. Berlin Situngkir, MBA
  • Ketua 1: Dr. Ronsen Pasaribu
  • Ketua 2: Drs. Aderson Situngkir, M.Si.
  • Ketua 3: Firma Munthe, SH.
  • Ketua 4: Arta P. Sinamo
  • Sekretaris Umum : Jhohannes Marbun
  • Sekretaris 1: Drs. Salindo Sijabat
  • Sekretaris 2: Panitia lokal di Dairi
  • Sekretaris 3: Panitia lokal di Dairi
  • Bendahara Umum : Tiomora Sitanggang
  • Bendahara: Suriani Siahaan
  • Bendahara: Tiendy Rose Panjaitan
  • Acara :

-Seksi Anak & Remaja  : Susi Rio Panjaitan, Rio Pangaribuan

-Seksi Pemuda  : Darman Siahaan, Lukson Girsang,

-Seksi Ibadah  : Pdt. Marihot Siahaan, S.Th

-Seksi Seni & Budaya  : Purnama Heppy Munthe; Edward Simanungkalit;

-Seksi Kreativitas  : Hokky Silalahi

  • Kerjasama

– Penggalangan Umat  : Panitia lokal di Dairi

– Penggalangan Dana  : Sandi E. Situngkir

– Lingkungan: Panitia lokal di Dairi

  • Humas dan Media : Richard Markus Siburian
  • Transportasi dan Tour : Panitia lokal di Dairi
  • Teknologi Support  : Panitia lokal di Dairi
  • Dokumentasi: Jackson Siahaan, Jogi Situngkir
  • Kesekretariatan: Boy Tonggor Siahaan

Related posts

Komentar (0)

Leave a Comment

Facebook Comments (0)

G+ Comments (0)