FGD: Pola Asuh Anak Berbasis Budaya Batak

budaya Batak

JAKARTA, DanauToba.org Makin tergerusnya budaya Batak dalam kehidupan masyarakat Batak, baik di Bonapasogit (kampung halaman) maupun di luar bonapasogit (perserakan/diaspora), mendorong Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) membuat Focus Discussion Group (FGD). FGD tersebut diselenggarakan pada Jumat (10/11/2017) di Sekretariat YPDT, Jakarta.

budaya Batak
Suasana FGD

FGD ini merupakan satu rangkaian kegiatan YPDT yang terkoneksi dengan kegiatan Gerakan Cinta Danau Toba (GCDT) III pada Desember 2017 mendatang. Ketua Umum YPDT, Maruap Siahaan, menyatakan bahwa GCDT III tetap diselenggarakan, tetapi pelaksanaannya lebih fokus dan mendalam dengan mengangkat topik Pola Asuh (parenting) untuk memperlengkapi masyarakat di Kawasan Danau Toba.

Ketua Panitia Rangkaian kegiatan tersebut, Pdt. Marihot Siahaan, menjelaskan bahwa dalam rangka melaksanakan GCDT III dengan topik Parenting tersebut, ada rangkaian kegiatan yang diselenggarakan, yaitu: FGD, Seminar, dan GCDT III.

Topik Parenting diangkat karena ada yang salah dalam pola asuh anak-anak di era teknologi canggih ini. Teknologinya canggih, tetapi didikannya salah asuh. “Kita dididik orangtua dengan nilai-nilai ketimuran,” ujar Susi Rio Panjaitan (Sekretaris Panitia).

“Terpikir oleh saya, zaman dulu ada kearifan lokal yang diajarkan orangtua kita,” ungkap Susi. Kearifan lokal itulah membuat kita mengakar pada jatidiri dan moralitas yang berkualitas.

FGD ini dipandu Susi dan Jhohannes. Para peserta diskusi dipandu dengan pokok-pokok bahasan di antaranya: tanggung jawab, pemahaman tentang kekerabatan, konsekuensi melawan perintah dan nasehat orangtua, memberi pendapat, nasehat orangtua akan saudara sekandung, keteladanan, dapat dipercaya, meraih kesuksesan, dan kapan disampaikan pendidikan seks.

FGD ini berjalan dengan suasana hangat dan keakraban. Para peserta antusias menceritakan pengalamannya masing-masing terkait pokok-pokok bahasan di atas.

 

Tanggung Jawab

Kebanyakan orang Batak sejak anak-anak sudah diberi tanggung jawab oleh orangtuanya. Payaman Simanjuntak mengakui di usia 4 tahun ia diberi tanggung jawab mamuro (mengusir burung agar tidak memakan) padi di ladang. Sementara Pdt. Marihot Siahaan bercerita bahwa ia pada umur 3 tahun sudah mengasuh adik dan pada usia 4 tahun sudah menanak nasi, mencari kayu bakar, dan mengambil air. Judika Malau juga menceritakan bahwa sejak kecil ia sudah diberi tanggung jawab memasak dan mencari kayu. Irma Simanjuntak mengatakan bahwa sejak kecil memang kita sudah diberi tanggung jawab dan ada pembagian tugas.

 

Pemahaman tentang Kekerabatan

Semua peserta mengakui bahwa mereka semua diajarkan mengenai partuturon (tegur sapa dan rasa hormat kepada yang lebih tua) dalam kekerabatan. Anak yang diajarkan partuturon tahu akan jatidirinya dan posisinya dalam kekerabatan.

 

Konsekuensi Melawan Perintah dan Nasehat

Seringkali orangtua menghukum anaknya jika melawan perintah dan nesehat mereka. Payaman Simanjuntak menyatakan bahwa selama dididik orangtuanya, ia tidak pernah melawan dan akibatnya tidak pernah dihukum. “Hampir tidak pernah orangtua saya marah,” ungkapnya.

Beda lagi dengan kisah masa kecil Pdt. Marihot Siahaan. “Saya kalau salah, biasanya yang dipukul abang saya karena saya anak bungsu (siampudan),” kata Pendeta dari Gereja Punguan Kristen Batak Polumas ini.

 

Memberi Pendapat

“Biasanya kami bisa menyampaikan pendapat pada saat bekerja ke ladang. Saya ketika itu berusia 6-7 tahun,” cerita Payaman Simanjuntak. “Orangtua selalu memanggil kita setiap sore, jika ada permasalahan. Di sinilah ada ruang diskusi dalam keluarga,” ujar Irma Simanjuntak. “Kalau di keluarga kami saat Tahun Baru, kami boleh memberi pendapat. Ada diskusi,” kata Maruap Siahaan.

 

Nasehat Orangtua akan Saudara Sekandung

Irma Simanjuntak: “Anak perempuan di keluarga kami diistimewakan, sebaliknya anak lelaki sering dididik keras. Kami dari keluarga pendeta. Jadi dituntut menjadi yang terbaik termasuk juga dalam hal sekolah. Biasanya yang istimewa adalah yang perempuan.”

Ada juga nasehat orangtua supaya kelak kalau menikah dengan orang Batak, terutama kepada anak perempuan. Orangtua Anny Simanjutak mengatakan kepadanya harus menikah dengan orang Batak dan Kristen. Soal pergaulan pun harus dengan orang Batak supaya tidak terbawa arus.

Mariana Pangaribuan masih ingat nasehat orangtuanya bahwa sebagai saudara sekandung harus saling hormat, saling membantu, saling menjaga dan melindungi.

 

Keteladanan

Ada keteladanan yang ditanamkan orangtua kepada anak-anaknya. Misalnya, jangan melawan kepada orang yang lebih tua, walaupun sebel (tidak suka), sayangi adik-adikmu. Beri contoh ke adik-adikmu terutama soal sekolah, demikian ungkap Irma Simanjuntak.

 

Dapat Dipercaya

Pada usia tertentu, biasanya orangtua memberikan kepercayaan karena anaknya dapat dipercaya. Sebagai contoh, ada yang diberi kepercayaan untuk mengolah uang belanja yang didelegasikan ibunya.

 

Meraih Kesuksesan

Para peserta semua sepakat bahwa meraih kesuksesan yang ditanamkan orangtua mereka adalah jika mereka mampu menjadi Sarjana atau setidaknya pendidikan anaknya melebihi orangtuanya.

 

Pendidikan Seks

Orangtua kita terkadang tabu menyampaikan pendidikan seks kepada anak-anak. Biasanya hanya seorang ibu menyampaikan pendidikan seks kepada putrinya ketika putrinya memperoleh haid pertama. “Mama saya bilang kepada saya, kamu harus hati-hati,” kata Irma ketika pertama kali datang bulan.

 

Di akhir diskusi, Jerry R. H. Sirait (Pengawas YPDT) menyampaikan pesan bahwa yang kita tawarkan dalam FGD ini dan juga dilanjutkan pada Seminar dan GCDT III adalah bagaimana nilai-nilai kearifan lokal dalam Budaya Batak itu bisa sejalan dan mendukung nilai-nilai Kekristenan. Kita dapat meneladani orang-orang Batak yang sudah mendahului kita, misalnya T. B. Simatupang dan Prof. Midian Sirait. Kedua orang tersebut sangat kokoh memegang nilai-nilai kebatakan (habatakon), Kekristenan, dan keindonesiaan secara utuh dan terpadu.

Para peserta yang hadir dalam FGD ini adalah Prof. Dr. Payaman J. Simanjuntak (Pembina YPDT), Drs. Maruap Siahaan, MBA (Ketum YPDT), Pdt. Marihot Siahaan (Sekretaris YPDT dan Ketua Panitia), Jhohannes Marbun, MA (Sekretaris Eksekutif YPDT), Susi Rio Panjaitan, M.Psi (Sekretaris Panitia), Mariana Pangaribuan, Irma Riana Simanjuntak, Anny Simanjuntak, Judika Malau, Drs. Jerry R. H. Sirait (Pengawas YPDT), dan Boy Tonggor Siahaan (Staf YPDT). (BTS)

Related posts

Komentar (0)

Leave a Comment

Facebook Comments (0)

G+ Comments (1)