Bakal Banyak Fotografer Lahir dari Baktiraja

fotografer

BAKARA, DanauToba.org Siapa bilang anak-anak remaja Baktiraja tidak berpotensi apalagi menjadi fotografer? Ini dijawab/ditunjukkan oleh mereka dengan mengikuti Workshop Fotografi yang digagas Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) pada Sabtu (15/12/2018) sore di Aula HKBP Sinambela-Simanullang, Bakara, Kabupaten Humbang Hasundutan.

Workshop tersebut adalah bagian dari rangkaian kegiatan Gerakan Cinta Danau Toba (GCDT) IV di Baktiraja yang akan diselenggarakan pada 27-30 Desember 2018. YPDT menghadirkan seorang fotografer profesional bernama Edward Tigor Siahaan sebagai coach (pelatih) dan dipandu Sebastian Hutabarat, juga fotografer kawakan. Keduanya dikenal adalah Pengurus YPDT Perwakilan di mana Edward Tigor Siahaan dari Tapanuli Utara dan Sebastian Hutabarat dari Toba Samosir.

Di luar dugaan, acara ini mampu menyedot perhatian para remaja sebanyak 90 orang hadir dan sisanya 10 orang dewasa. Jadi total 100 peserta turut ambil bagian dalam workshop ini. Jhohannes Marbun (Sekretaris Eksekutif YPDT) mengatakan bahwa Workshop Fotografi ini dilaksanakan untuk memperkenalkan kepada masyarakat di Kawasan Danau Toba (KDT) pentingnya foto atau visualisasi tentang keadaan di sekitarnya secara lebih meyakinkan baik untuk kepentingan berita, marketing (pemasaran), dan lain-lain. “Danau Toba yang tidak diragukan lagi keindahannya tentu perlu juga disampaikan secara menarik,” ujar Marbun yang juga Wakil Ketua Panitia GCDT IV 2018.

Setelah perkenalan dan sebelum menyampaikan tips and trick basic photograhy (tips dan trik palajaran fotografi dasar), Edward Tigor Siahaan bertanya kepada para remaja: “Kalau kita, orang Bakara ini pindah ke Swiss dan orang Swiss pindah ke Bakara, apa yang akan terjadi?” Jawab mereka: “Perang!” Seketika semuanya tertawa.

“Maksudnya, Bakara akan seperti apa?” koreksi Siahaan. Jadi bagus jawab mereka serentak. “Lalu bagaimana dengan Swiss? Jadi hancur jawabnya lagi serentak. “Bah, mengapa jadi hancur? Padahal kita ini anak-anak raja. Swiss pun akan lebih bagus di tangan orang-orang Batak,” kata Siahaan meluruskan.

Ketika para remaja ditanya: “Apa cita-cita mereka?” Cita-cita mereka ini mayoritas mau jadi polisi, guru, hakim, tentara, dan Pegawai Negeri Sipil. Cita-cita mereka bagus, tetapi apakah ada yang bercita-cita mau jadi fotografer? Mungkin mereka belum mengerti seperti apa profesi fotografer itu, tetapi secara umum Siahaan mengatakan bahwa fotografer itu kehadirannya disenangi banyak orang. Tak lama kemudian, banyak para remaja tertarik menjadi fotografer.

 

 

Selanjutnya Siahaan mengajak para remaja berkelana menyaksikan Bali, berbagai belahan dunia, dan tentu Danau Toba melalui berbagai slide foto yang menarik. Cara seperti inilah yang dibuatnya untuk memasukkan pelajaran fotografi kepada mereka. Siahaan sendiri memberikan hadiah kepada mereka sebuah buku karyanya berjudul Batak Inspigraph bila ada di antara mereka yang dapat menceritakan dengan bagus materi pelajaran fotografi tersebut.

Usai persentasi ada 3 remaja puteri yang maju berbagi secara luar kepala apa yang mereka dapat dari pelajaran tersebut. Di luar dugaan, mereka cukup mampu menerangkan dengan baik. Pemenangnya adalah boru Manullang yang menjelaskan lebih dari 60% materi pelajaran yang disampaikan termasuk istilah-istilah sulit dalam fotografi. Dialah yang dapat hadiah buku Batak Inspigraph sebagai pemenang. “Anak-anak lain yang mau ikut kutip sampah dapat sepotong kecil Pizza Andaliman,” ujar Hutabarat yang notabene pengusaha Pizza Andaliman yang sudah terkenal di berbagai tempat.

Maruap Siahaan (Ketua Umum YPDT) secara terpisah berpendapat bahwa kegiatan kreatif ini akan menjadi bekal mereka menjadi anak kreatif. Hanya anak kreatif yang dapat bersaing di masa depan. Pengetahuan akan tergantikan oleh perangkat digital, tetapi kreativitas hanya dimiliki manusia.

“Belajar dari melihat para remaja tersebut, pasti banyak di antara mereka yang lebih hebat dari kita. Jika saja mereka, saudara kita di kampung ini, dapat bekal dan kesempatan baik seperti kita, maka bakal banyak fotografer lahir dari Baktiraja,” pungkas Hutabarat.

Acara workshop ini menjadi ajang persiapan dan pembekalan para peserta untuk selanjutnya mereka dapat mengikuti kontes foto dalam kegiatan GCDT IV di Baktiraja dari 27-30 Desember 2018. Panitia membuka pendaftaran gratis mengikuti kontes foto tersebut dan memberikan hadiah kepada pemenang dengan foto terbaik menurut keputusan juri.

(Humas YPDT)

Related posts

Komentar (0)

Leave a Comment

Facebook Comments (0)

G+ Comments (0)