Antusias Masyarakat Silalahi-Paropo Merespons Program Bank Sampah

Silalahi-Paropo

JAKARTA, DanauToba.org ― Seminar Program Bank Sampah yang dilaksanakan Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT) memperoleh antusias yang luar biasa dari masyarakat Silalahi-Paropo. Seminar yang dihadiri sekitar 130 orang tersebut digelar pada Jumat (27/7/2018) di SMA Negeri 1 Silahisabungan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara.

Respons masyarakat Silalahi-Paropo sungguh tinggi antusiasnya. Mereka mendengarkan dengan seksama penjelasan dari para narasumber dan mata mereka seperti “dicelikkan.”

Beberapa pertanyaan mendasar mereka sampaikan. Sebagai contoh, C. F. Sidjabat bertanmya tentang masalah air Danau Toba. Ia bertanya, “Dulu orang dapat minum langsung air dari Danau Toba tanpa dimasak, tetapi sekarang tidak bisa. Bagaimana kita memulihkan kembali kejernihan air Danau Toba? Di Sialaman di pinggir Danau Toba saya menyelam sedalam 3-4 meter. Di situ ada plastik di dasar danau. Apa tindakan kita?”

Pertanyaan lain juga cukup sulit dijawab disampaikan Sondang br. Sihombing. Tanya ibu ini: “Bagaimana pihak pemerintah bisa mendukung lebih lanjut terkait Bank Sampah?”

Arief Sumargi (staf dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, disposisi dari Dirjen Rosa Vivien Ratnawati, S.H., M.Sc.) merespos pertanyaan C. F. Sidjabat. “Perlu ada Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur bahwa sampah tidak boleh dibuang ke danau, termasuk Danau Toba. Namun perlu penegakkan hukum dan disosialisasikan Perdanya. Tahun depan kita akan buat sanksi untuk pembuang sampah. Oleh karenanya perlu sistem monitoring (pemantauan). Pelanggarnya dikenakan sanksi,” ujarnya dengan tegas.

Dr. Indra Utama mewakili Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sumatera Utara memberi penjelasan tentang peran pemerintah dalam mendukung Program Bank Sampah. Penjelasannya sekaligus menjawab pertanyaan Sondang br. Sihombing.

Kami akan membuka Bank Sampah Induk Provinsi di Jalan Merak. Targetnya ke Deliserdang dan Kawasan Danau Toba (KDT). Nanti kita akan membantu untuk fasilitasi. Jadi kalau di sini akan dibuat Program Bank Sampah, ya dimulai saja. Ada 4-5 orang langsung dimulai saja dulu. Kalau lingkungan sudah bersih, kita akan sehat. Saudara-saudara menyiapkan permohonan agar dibuatkan SK (Surat Keputusan) dari Kepala Desa dan dari Provinsi Sumatera Utara. Itu saja dulu yang perlu kita lakukan.

Kami sudah merencanakan Program Bank Sampah di Muara, tetapi belum dimulai. Targetnya 3 kecamatan di KDT. Nanti rumah komposnya kita satukan. Komposnya tahun depan akan diprioritaskan. Mungkin tidak perlu dibawa ke medan, tetapi penampungnya ada di sini. Bank Sampah tidak mudah, syukur kalau ada dana desa membantu. Tapi  kadang masyarakat pun tidak tahu.

Sekarang ada Dana Desa, kita perlu juga menyiapkan tidak hanya sarana dan prasarana, tetapi juga pengelolaan Bank Sampah dan jadwal pengangkutan sampah.

Sampah adalah masalah, tetapi sekaligus peluang. Kami pernah mengawalinya dengan perlombaan Bank Sampah di Deliserdang. Pengelolaan sampah memiliki peluang menambah penghasilan masyarakat dan dapat dikembangkan untuk mendukung Parawisata, terutama Program Pariwisata yang dilaksanakan pemerintah, yaitu: Sapta Pesona. Demikian uraian Indra Utama.

 

Narasumber
Dr H Indra Utama SE, M.Si bicara Bank Sampahvmendukung Pariwisata Danau Toba
Pembukaan
Para peserta Seminar Bank Sampah Silalahi-Paropo menyanyikan lagi Kebangsaan, Indonesia Raya
Backdrop
Para Peserta
Terhitung hadir 130 peserta, sebagian besar kaum perempuan dan kaum muda.
Narasumber
Tiga orang narasumber (kiri-kanan): Dr H Indra Utama SE, M.Si, Arief Sumargi, dan Armawati Chaniago.
Para peserta
Kaum ibu terlihat antusias.
Narasumber
Armawati Chanaigo (Direktur Rumah Kompos dan Bank Sampah Cicanang - Belawan) menyampaikan presentasinya.
Para Peserta
Para peserta kamu muda turut ambil peran.
Para Peserta
C. F. Sidjabat duduk paling depan, tokoh masyarakat Silalahi.
Jhohannes Marbun sedang memvideokan acara Seminar.
Narasumber
Jhohannes Marbun (Sekretaris Eksekutif YPDT) berbagi pengalaman dalam pengelolaan Bank Sampah.
Narasumber
Jhohannes Marbun (Sekretaris Eksekutif YPDT) berbagi pengalaman dalam pengelolaan Bank Sampah.

 

Arief Sumargi juga menambahkan penjelasan Indra Utama. Dairi itu penilaian pengelolaan sampahnya masih kecil yaitu 67, perlu digalakkan kesadaran terkait masalah sampah.

Jadi memang kesadaran kita masih kurang.  Ke depan bagaimana dalam hal makanan dan minum juga tidak perlu lagi pakai air kemasan. Tetapi bawa tempat makan dan botol minumnya sendiri. Mudah-mudahan ini menjadi perhatian kita semua.

Pemerintah sudah mengeluarkan UU no.18/2008 tentang Pengelolaan Sampah, PP 81/2012, dan Permen. Semuanya itu untuk mendorong masyarakat melakukan tindakan pencegahan mengatasi masalah sampah. Pencegahan masih kurang. Harapannya pencegahannya ke depan makin besar/tinggi, sehingga sampah di TPA (tempat pembuangan akhir) menjadi minim. Jadi Pengelolaan Sampah adalah usaha untuk mengurangi dan menangani sampah melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, dan Recyle) atau (Mengurangi, Daur Pakai, dan Daur Ulang).

YPDT mendapat dukungan pendanaan untuk program Bank Sampah ini dari Kedutaan Besar Selandia Baru melalui Head of Embassy Fund (HEF), dukungan masyarakat Silalahi–Paropo, dan komunitas dari Silalahi–Paropo yang terserak di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).

Baca juga:

 

#TabungSampahRaihMasaDepan

Pewarta: Jhohannes Marbun
Editor: Boy Tonggor Siahaan

Related posts

Komentar (0)

Leave a Comment

Facebook Comments (0)

G+ Comments (0)